Di Balik Dedikasi Guru: Beban yang Tak Selalu Terlihat
Oleh: Devi Ratnasari (Mahasiswi Prodi PAI Semester IV STIT Sunan Giri Bima)
Kota Bima, Media NTB - Guru sering digambarkan sebagai lilin, menerangi sekelilingnya sambil perlahan menghabiskan diri. Namun, di balik metafora yang puitis itu, tersimpan realitas yang jauh lebih kompleks dan tidak selalu romantis. Pada 25 Februari 2025, di ruang kelas PAI semester 4 STIT Sunan Giri Bima, gambaran itu terasa begitu nyata. Diskusi sederhana tentang administrasi kurikulum justru membuka ruang refleksi yang lebih dalam: pendidikan kita sedang berjalan, tetapi dengan beban yang tidak seimbang.
Apa yang seharusnya menjadi pembahasan teknis berubah menjadi cermin kritis. Kurikulum yang dirancang untuk meningkatkan kualitas pendidikan, dalam praktiknya justru sering menambah lapisan beban bagi guru. Administrasi yang menumpuk, tuntutan inovasi yang terus berubah, serta tekanan capaian akademik membuat peran guru semakin kompleks. Mereka tidak lagi hanya mengajar, tetapi juga menjadi administrator, inovator, konselor, bahkan terkadang “penanggung jawab tunggal” atas keberhasilan dan kegagalan sistem.
Dalam kondisi seperti ini, guru kerap berada dalam posisi yang paradoks. Ketika hasil belajar meningkat, sistem dipuji sebagai keberhasilan kebijakan. Namun ketika terjadi penurunan, guru menjadi pihak pertama yang disalahkan. Logika ini secara tidak langsung menunjukkan adanya ketimpangan dalam cara kita memandang tanggung jawab pendidikan.
Lebih jauh, persoalan ini tidak hanya berhenti pada beban kerja. Aspek kesejahteraan menjadi luka lama yang belum benar-benar sembuh. Penelitian dalam jurnal Future Academia berjudul “Riset Kesejahteraan Guru di Indonesia” oleh Saidun Hutasuhut, dkk. (2025) menunjukkan bahwa masih banyak guru honorer menerima upah antara Rp300.000 hingga Rp1.000.000 per bulan. Angka tersebut bukan hanya statistik, tetapi gambaran nyata dari ketimpangan antara tanggung jawab besar dan penghargaan yang minim.
Dampak dari kondisi ini mulai terasa hingga ke bangku perkuliahan. Mahasiswa jurusan kependidikan, termasuk Pendidikan Agama Islam, mulai dihadapkan pada realitas yang tidak sederhana. Di satu sisi, mereka dipersiapkan menjadi pendidik profesional. Di sisi lain, mereka menyaksikan kenyataan bahwa menjadi guru tidak selalu menjanjikan kepastian ekonomi maupun karier. Cerita para alumni yang masih berjuang mencari ruang pengabdian menjadi refleksi yang sulit diabaikan.
Di titik inilah muncul ironi besar dalam dunia pendidikan kita. Pendidikan tinggi terus didorong sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik, tetapi sebagian lulusannya justru dihadapkan pada ketidakpastian. Ini bukan semata persoalan individu, melainkan cerminan dari sistem yang belum sepenuhnya selaras antara kebutuhan, kebijakan, dan realitas lapangan.
Jika Indonesia benar-benar serius ingin mewujudkan generasi emas, maka guru tidak bisa lagi diposisikan sebagai pelengkap dalam sistem pendidikan. Mereka harus menjadi pusat perhatian. Kesejahteraan yang layak, kepastian karier, serta perlindungan profesional bukan sekadar tuntutan, tetapi prasyarat utama bagi terciptanya pendidikan yang berkualitas.
Di sisi lain, perguruan tinggi kependidikan juga perlu melakukan penyesuaian. Dunia terus berubah, dan tantangan semakin kompleks. Mahasiswa tidak cukup hanya dibekali teori, tetapi juga keterampilan adaptif yang memungkinkan mereka bertahan dan berkembang dalam berbagai kondisi. Menjadi guru hari ini bukan hanya soal mengajar, tetapi tentang kemampuan membaca zaman dan menemukan peran di tengah dinamika yang terus bergerak.
Akhirnya, pengalaman di ruang kelas STIT Sunan Giri Bima itu meninggalkan satu kesimpulan penting: menjadi guru adalah pilihan yang menuntut keberanian. Bukan hanya keberanian untuk mengajar, tetapi juga keberanian untuk bertahan di tengah sistem yang belum sepenuhnya berpihak.
Jika kita ingin cahaya pendidikan tetap menyala, maka tanggung jawab tidak boleh hanya dibebankan kepada guru. Harapan harus disertai dengan kebijakan yang nyata dan keberpihakan yang jelas. Tanpa itu, idealisme yang terus digaungkan hanya akan menjadi beban, bukan kekuatan, bagi mereka yang berdiri di garis depan pendidikan.(MA)





Post a Comment