Stunting NTB Turun ke 13,39 Persen, Lebih Rendah dari Nasional dan Lampaui Target 2025


Mataram, Media NTB – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyampaikan perkembangan terbaru penanganan stunting sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data konsolidasi per Desember 2025, prevalensi stunting di NTB tercatat sebesar 13,39 persen atau 51.809 kasus dari 387.065 balita.


Angka tersebut dinilai sangat positif karena lebih rendah dari rata-rata nasional 18,8 persen, sekaligus melampaui target NTB Tahun 2025 yang ditetapkan sebesar 21,7 persen.


Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal melalui Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja bersama lintas sektor yang terus diperkuat hingga tingkat desa.


“Alhamdulillah, capaian stunting NTB per Desember 2025 berada di angka 13,39 persen. Ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan kerja nyata pemerintah daerah bersama kabupaten/kota, tenaga kesehatan, kader, serta partisipasi masyarakat dalam memperbaiki kualitas tumbuh kembang anak-anak NTB,” ujar Aka.


Ia menegaskan, penurunan stunting merupakan agenda prioritas karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia NTB ke depan.


“Stunting adalah ancaman serius bagi kualitas SDM. Karena itu, kami tidak hanya fokus pada capaian, tetapi juga pada kesinambungan program agar kasus baru dapat dicegah sejak dini,” tegasnya.


Capaian Stunting Kabupaten/Kota

Berdasarkan laporan gizi pada aplikasi Sigizi Kesga Kementerian Kesehatan RI Tahun 2026, capaian stunting NTB per kabupaten/kota hingga Desember 2025 adalah sebagai berikut:

  • Lombok Barat: 9,58%
  • Lombok Tengah: 9,99%
  • Lombok Timur: 22,39%
  • Sumbawa: 10,70%
  • Dompu: 12,61%
  • Bima: 12,22%
  • Sumbawa Barat: 7,10%
  • Lombok Utara: 14,18%
  • Kota Mataram: 6,57%
  • Kota Bima: 9,49%


Pemprov NTB menegaskan data tersebut menjadi dasar penting untuk memastikan intervensi yang dilakukan lebih terarah dan tepat sasaran, terutama pada daerah dengan angka stunting yang masih relatif tinggi.


“Daerah yang sudah rendah harus dijaga agar tidak meningkat, sementara daerah dengan angka lebih tinggi akan kita dorong percepatan intervensinya,” tambah Aka.


Kasus Baru Awal 2026

Selain capaian 2025, pemantauan Januari 2026 menunjukkan adanya 0,6 persen atau 1.890 kasus stunting baru di NTB. Hal ini menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan harus terus dilakukan secara konsisten.


Rincian kasus stunting baru Januari 2026 per kabupaten/kota:

  • Lombok Barat: 1,0% (479 kasus)
  • Lombok Tengah: 0,9% (653 kasus)
  • Lombok Timur: 0,8% (545 kasus)
  • Sumbawa: 0,3% (79 kasus)
  • Dompu: 0,0%
  • Bima: 0,1% (36 kasus)
  • Sumbawa Barat: 0,4% (39 kasus)
  • Lombok Utara: 0,3% (41 kasus)
  • Kota Mataram: 0,001% (4 kasus)
  • Kota Bima: 0,2% (14 kasus)


Persentase stunting akan terus diperbarui sesuai hasil pengukuran tinggi badan balita setiap bulan.


Gubernur Miq Iqbal mengapresiasi daerah yang berhasil menekan kasus baru dan mendorong penguatan layanan kesehatan pada wilayah yang masih menunjukkan penambahan kasus.


“Penanganan stunting bukan pekerjaan musiman. Pencegahan harus dimulai dari hulu, mulai dari ibu hamil, pola asuh, gizi keluarga, hingga layanan kesehatan yang konsisten di Posyandu dan Puskesmas,” tegas Gubernur.


Penguatan Langkah 2026

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan NTB Dr. dr. H. Lalu Hamzi Fikri, MM., MARS menyampaikan bahwa pihaknya akan memperkuat langkah strategis pada 2026 untuk menjaga tren penurunan stunting sekaligus menekan kasus baru secara cepat dan terukur.


Beberapa langkah utama yang akan diperkuat antara lain Aksi Bergizi di sekolah, penguatan surveilans gizi, pemantauan rutin pertumbuhan balita di Posyandu dan Puskesmas, edukasi PMBA, tatalaksana masalah gizi, koordinasi lintas sektor, monitoring Desa Berdaya, pembinaan gizi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pemenuhan pita LILA sebagai deteksi dini risiko stunting.


“Target kita jelas, menurunkan stunting dengan cara yang terukur, konsisten, dan menyentuh keluarga sebagai pusat pencegahan,” pungkasnya.(NM)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.