Wakili Gubernur NTB, Plt. Karo Kesra Tekankan Rebana sebagai Media Dakwah dan Pembentukan Karakter
Dalam sambutan tertulisnya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan ruang syi’ar melalui harmoni rebana dan lantunan syair pujian kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
“Dakwah melalui seni adalah dakwah yang indah, menyejukkan, dan mudah diterima oleh semua lapisan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Gubernur, Pemerintah Provinsi NTB memandang kegiatan keagamaan seperti ini sebagai bagian dari pembangunan karakter masyarakat. Ia menegaskan bahwa membangun daerah tidak hanya soal infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga menyangkut pembangunan moral, spiritual, dan budaya.
Ia menambahkan, seni rebana membuktikan bahwa pesan keagamaan tidak selalu harus disampaikan secara panjang lebar. Melalui irama dan syair, nilai-nilai Islam dapat menyentuh hati secara halus namun mendalam.
Di berbagai daerah, kelompok rebana dan hadrah yang tumbuh dari majelis taklim bahkan menjadi ruang pembinaan generasi muda. Anak-anak muda yang sebelumnya tidak memiliki ruang ekspresi positif, kini menemukan wadah melalui syair salawat, tampil dalam berbagai kegiatan keagamaan, menumbuhkan rasa percaya diri, hingga mengembangkan ekonomi kreatif berbasis seni religi.
“Ini bukti bahwa rebana bukan sekadar alat musik, tetapi media pembentukan karakter dan pemberdayaan,” tegasnya.
Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang pesat, tantangan saat ini bukan hanya memahami pengaruh luar, tetapi memperkuat identitas dan kreativitas daerah. Seni rebana dan syair Islam diharapkan terus berkembang sebagai ekspresi keislaman yang relevan dan membanggakan bagi generasi muda NTB.
Gubernur juga mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat keimanan, mempererat persaudaraan, dan menghadirkan syi’ar yang membawa kedamaian.
BKMT NTB Fokus Pembinaan Ibu dan Generasi Muda
Sementara itu, Ketua Badan Kontak Majelis Taklim Provinsi NTB, Hj. Siti Rauhul Faujah Djufrie, S.Ag., menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan, khususnya bagi kaum perempuan dan majelis taklim se-Kota Mataram.
Ia menekankan pentingnya peran ibu dalam mendidik dan membina anak agar terhindar dari pengaruh negatif, termasuk bahaya narkoba. Menurutnya, kondisi sejumlah daerah di NTB saat ini berada dalam situasi darurat narkoba, sehingga peran keluarga dan majelis taklim menjadi sangat strategis.
“Kami menghimpun ibu-ibu majelis agar menjadi teladan bagi anak-anaknya dan membimbing mereka menjauhi hal-hal yang dilarang Allah, termasuk narkoba,” ujarnya.
Menyambut Ramadan 1447 H, BKMT yang telah terbentuk di 10 kabupaten/kota se-NTB akan mengintensifkan sosialisasi bahaya narkoba melalui jaringan majelis taklim, khususnya menyasar para ibu dan generasi muda.
Ia juga mengajak generasi muda NTB untuk menjauhi narkoba dan terus berkreasi, salah satunya melalui seni rebana Islami dan perhimpunan seni budaya Islam.
“Jangan biarkan narkoba merusak masa depan. Mari kita arahkan anak-anak muda berkreasi melalui seni yang bernilai ibadah,” pungkasnya.
(alif/her/nm)





Post a Comment