Emosi di Balik Layar: Dampak Tersembunyi Media Sosial



Emosi di Balik Layar: Dampak Tersembunyi Media Sosial

Tak Terlihat, Tapi Menghantui: Efek Psikologis Media Sosial

Oleh: dr. Tiara Zakiah Darajat


Pernah merasa tiba-tiba cemas atau tidak enak hati setelah lama membuka media sosial? Padahal awalnya hanya ingin mencari hiburan atau sekadar mengisi waktu luang.


Pengalaman ini bukan hal yang aneh. Tanpa disadari, apa yang kita lihat di layar ponsel bisa memengaruhi perasaan kita. Bukan hanya berita besar, tetapi juga hal-hal kecil seperti komentar pedas, perdebatan, atau unggahan bernuansa negatif.


Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan konten negatif dapat menurunkan suasana hati dan memicu kecemasan. Menariknya, efek ini sering terjadi tanpa kita sadari sepenuhnya. Kita merasa “biasa saja”, tetapi perlahan menjadi lebih mudah gelisah, sensitif, atau lelah secara emosional.


Salah satu penjelasannya adalah karena emosi bisa “menular”. Ketika kita terus-menerus melihat kemarahan, kekhawatiran, atau pesimisme di media sosial, perasaan tersebut dapat ikut terbawa. Lama-kelamaan, kita menjadi lebih mudah tersinggung atau merasa tidak nyaman, meskipun tidak ada masalah yang jelas.


Kebiasaan lain yang sering kita lakukan adalah asyik melihat media sosial sampai lupa waktu, terutama untuk membaca berita atau konten negatif. Banyak orang melakukannya tanpa tujuan yang jelas. Semakin dibaca, semakin sulit berhenti. Alih-alih merasa lebih tenang, pikiran justru terasa semakin penuh. Di sisi lain, media sosial juga sering membuat kita membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat potongan kehidupan yang tampak sempurna, lalu mulai merasa hidup kita kurang. Jika terjadi terus-menerus, hal ini dapat memengaruhi kepercayaan diri dan kesehatan mental.


Dalam praktik sehari-hari, keluhan seperti ini semakin sering ditemui. Bukan berarti media sosial sepenuhnya buruk. Namun, cara kita menggunakannya memang perlu lebih disadari. Sering kali bukan soal berapa lama kita mengakses media sosial, tetapi apa yang kita konsumsi dan bagaimana kita meresponsnya.


Karena itu, penting untuk mulai lebih peka terhadap diri sendiri. Jika setelah menggunakan media sosial kita merasa lebih cemas, lebih mudah marah, atau tidak nyaman, itu bisa menjadi tanda bahwa kita perlu mengambil jeda.


Beberapa langkah sederhana bisa dilakukan. Misalnya, membatasi paparan konten negatif, memilih akun yang memberi dampak positif, serta menghindari kebiasaan scrolling tanpa tujuan. Istirahat sejenak dari media sosial juga dapat membantu pikiran menjadi lebih tenang.


Pada akhirnya, kita perlu menyadari bahwa apa yang kita lihat setiap hari akan memengaruhi apa yang kita rasakan. Kita mungkin tidak bisa mengendalikan semua yang muncul di layar, tetapi kita selalu punya kendali untuk memilih mana yang layak kita lihat dan kapan saatnya berhenti.(MA)



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.