Gubernur NTB: Kepercayaan Publik Penentu Masa Depan Media
Pesan tersebut disampaikan Miq Iqbal melalui Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Kominfotik) NTB sekaligus Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, Dr. H. Ahsanul Khalik, saat membuka Konferensi Wilayah III Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Nusa Tenggara Barat yang dirangkaikan dengan Focus Group Discussion (FGD) di Aula Lantai VI Bank NTB Syariah, Mataram, Sabtu (25/7).
Konferwil III AMSI NTB dihadiri Koordinator Wilayah AMSI Bali Nusra I Nengah Muliartha, Bupati Lombok Utara Dr. H. Najmul Ahyar, perwakilan Kapolda NTB, perwakilan Danrem 162/Wira Bhakti, Ketua PWI NTB, Ketua SMSI NTB, Ketua IJTI NTB, pimpinan perusahaan media, pemimpin redaksi, insan pers, serta tamu undangan lainnya.
Dalam pandangan Miq Iqbal, tema Konferwil III AMSI NTB, "Media Butuh Gizi (MBG) di Era AI dan Disrupsi Digital", telah menggambarkan tantangan nyata yang sedang dihadapi industri media. Namun, menurutnya, tema tersebut perlu diperkaya dengan semangat "Kolaborasi Digital, Keterbukaan, Media Pemersatu (KDKMP)."
Baginya, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, media tidak cukup hanya mampu beradaptasi dengan kecerdasan buatan dan disrupsi digital. Lebih dari itu, media harus membangun kolaborasi yang semakin kuat, mengedepankan keterbukaan, serta memperteguh perannya sebagai pemersatu bangsa. Dengan demikian, media tidak hanya mampu bertahan di tengah perubahan, tetapi juga menjaga kepercayaan publik sebagai modal utama untuk tetap relevan dan memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan demokrasi.
Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus dipandang sebagai peluang untuk memperkuat kualitas ekosistem media, bukan sebaliknya melahirkan persaingan yang saling melemahkan. Kolaborasi antarmedia, keterbukaan informasi, serta komitmen menghadirkan jurnalisme yang berkualitas diyakini akan memperkuat daya tahan industri media sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pers.
"Teknologi boleh terus berkembang, tetapi misi media tidak boleh berubah. Media harus semakin kolaboratif, semakin terbuka, dan tetap menjadi pemersatu bangsa. Dari situlah kepercayaan publik akan tumbuh," tegas Miq Iqbal.
Ia mengapresiasi AMSI yang menjadikan penguatan bisnis media sebagai salah satu fokus pembahasan dalam Konferwil III. Menurutnya, perusahaan pers yang sehat merupakan fondasi lahirnya jurnalisme yang independen, profesional, dan berkualitas. Keberlanjutan bisnis media menjadi syarat penting agar pers mampu menjalankan fungsi edukasi, kontrol sosial, sekaligus menjadi rujukan informasi yang terpercaya di tengah derasnya arus informasi digital.
Miq Iqbal juga menilai Focus Group Discussion yang menjadi rangkaian Konferwil III AMSI merupakan ruang strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan langkah bersama menghadapi tantangan media digital. Menurutnya, kolaborasi antarpelaku media, pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci untuk membangun ekosistem pers yang sehat, adaptif, dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak seluruh insan pers memperkuat ekosistem media yang sehat, menjaga kepercayaan publik melalui jurnalisme yang akurat, independen, dan beretika, serta membangun ruang informasi yang sehat sebagai fondasi demokrasi dan pembangunan daerah. Baginya, pemerintah dan pers bukanlah dua pihak yang saling berhadapan, melainkan mitra strategis yang memiliki tujuan yang sama, yaitu memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar, membangun ruang publik yang sehat, dan mengawal pembangunan yang berpihak pada kepentingan rakyat.
"Pemerintah yang baik dan pers yang profesional memiliki fungsi yang berbeda, tetapi tujuan yang sama, yaitu menghadirkan informasi yang benar, membangun ruang publik yang sehat, dan menjaga kepentingan masyarakat," ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Miq Iqbal secara resmi membuka Konferensi Wilayah III Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Nusa Tenggara Barat Tahun 2026.
Menutup sambutannya, Miq Iqbal menegaskan bahwa kecanggihan teknologi tidak akan pernah menggantikan nilai-nilai dasar jurnalisme. AI hanyalah instrumen yang membantu kerja media, sedangkan integritas, profesionalisme, independensi, dan etika tetap menjadi fondasi utama. Melalui semangat Kolaborasi Digital, Keterbukaan, Media Pemersatu (KDKMP), ia berharap media Indonesia semakin kokoh sebagai pilar demokrasi, memperkuat persatuan bangsa, serta terus menjaga kepercayaan publik sebagai modal utama menghadapi setiap perubahan zaman, pungkasnya.(NM)





Post a Comment