Ketika Benang Menenun Masa Depan: Pringgasela Merawat Warisan, NTB Membangun Peradaban
Pesan tersebut mengemuka dalam Karnaval Tenun Night Show "Srimananti: The Evolution of Heritage (Suara, Rupa, dan Aroma)" yang digelar di Tugu Mopra Pringgasela, Sabtu (25/7). Kegiatan ini tidak sekadar menampilkan keindahan tenun, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan nilai-nilai tradisi dengan kreativitas dan inovasi masa kini.
Alunan alat tenun yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Pringgasela seolah menjelma menjadi simbol perjalanan sebuah peradaban. Setiap helai benang yang dirajut para penenun merekam ketekunan, pengetahuan, serta komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya di tengah perubahan zaman.
Penyelenggaraan Alunan Budaya yang telah memasuki tahun ke-10 menunjukkan konsistensi masyarakat Pringgasela dalam melestarikan tenun sebagai bagian dari identitas daerah. Melalui tema "The Evolution of Heritage", penyelenggara ingin menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan hidup yang terus berkembang mengikuti dinamika zaman tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya.
Ketua TP PKK NTB sekaligus Ketua Dekranasda NTB, Sinta Aghatia M. Iqbal, didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhammad Ihwan, S.Sos., M.Si., yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTB menempatkan kebudayaan sebagai salah satu fondasi pembangunan daerah.
Dalam visi NTB Makmur Mendunia, kebudayaan dipandang memiliki peran strategis dalam memperkuat identitas daerah, mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, meningkatkan daya tarik pariwisata, serta memperluas diplomasi budaya di tingkat nasional maupun internasional. Karena itu, tenun Pringgasela tidak hanya dipahami sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai warisan pengetahuan dan ekspresi budaya yang memiliki nilai sosial, ekonomi, dan historis.
Pemerintah Provinsi NTB terus mendorong berbagai upaya pelestarian budaya melalui penyusunan Haluan Pemajuan Kebudayaan Daerah, penguatan fungsi museum, revitalisasi Taman Budaya, perlindungan objek pemajuan kebudayaan, serta penguatan kolaborasi dengan komunitas, pelaku seni, akademisi, dan pemerintah kabupaten/kota.
Langkah-langkah tersebut diarahkan agar kebudayaan tidak hanya menjadi warisan yang dikenang, tetapi juga menjadi bagian dari pembangunan yang berkelanjutan dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pringgasela menjadi contoh bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan inovasi. Tradisi tidak diposisikan sebagai penghambat kemajuan, melainkan sebagai sumber inspirasi dalam menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Di balik setiap helai kain tenun yang dihasilkan, tersimpan cerita tentang ketekunan, identitas, dan harapan. Ketika para peraga busana melangkah di panggung Srimananti, yang ditampilkan bukan hanya ragam motif tenun, tetapi juga perjalanan panjang budaya yang terus bertahan, beradaptasi, dan berkembang mengikuti zaman.
Dari Pringgasela, Nusa Tenggara Barat menyampaikan pesan bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak harus meninggalkan akar budaya. Sebaliknya, kemajuan akan semakin kokoh ketika bertumpu pada nilai-nilai lokal yang dirawat, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada dunia sebagai bagian dari identitas daerah.(NM)





Post a Comment