Atasi Kemacetan Rembiga, Gubernur dan Wali Kota Mataram Turun Bersama
Sekitar pukul 17.15 WITA, keduanya tiba di kawasan Simpang Empat Rembiga. Mereka mengamati langsung pergerakan kendaraan dari berbagai arah ketika volume lalu lintas mulai meningkat.
Peninjauan juga difokuskan pada efektivitas rekayasa lalu lintas, termasuk penataan jalur dan penggunaan water barrier di kawasan persimpangan.
Bagi Gubernur Iqbal, persoalan kemacetan Rembiga tidak cukup diselesaikan melalui perencanaan di atas kertas. Kondisi riil di lapangan harus menjadi dasar dalam menentukan langkah penanganan.
Sejumlah skema telah dicoba. Salah satunya penggunaan water barrier yang dinilai cukup membantu mengurai kepadatan kendaraan dan mengarahkan arus lalu lintas agar lebih tertib.
Namun, persoalan muncul setelah sebagian water barrier dibongkar oleh warga.
Gubernur Iqbal meminta persoalan tersebut tidak berkembang menjadi polemik. Menurutnya, komunikasi dan musyawarah harus dikedepankan agar kepentingan masyarakat tetap terakomodasi, sementara upaya penataan lalu lintas dapat terus berjalan.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita mencari solusi bersama. Kita ingin lalu lintas lancar, tetapi pada saat yang sama kepentingan masyarakat juga harus kita perhatikan,” ujar Iqbal.
Bukan Hanya Soal Kendaraan
Persoalan Rembiga, menurut pemerintah, tidak semata-mata tentang kendaraan yang melintas. Kawasan tersebut juga menjadi ruang ekonomi bagi masyarakat.
Karena itu, setiap kebijakan penataan harus mampu mempertemukan tiga kepentingan sekaligus: kelancaran lalu lintas, keselamatan pengguna jalan, dan keberlangsungan ekonomi warga.
Usai memantau kondisi persimpangan, Gubernur Iqbal dan Wali Kota Mohan bahkan berjalan kaki menyusuri kawasan Rembiga.
Keduanya menyempatkan diri berdialog dengan sejumlah pelaku UMKM dan mendengarkan langsung kondisi serta aspirasi para pedagang yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Langkah ini menjadi penting karena penataan lalu lintas tidak boleh hanya melihat persoalan dari sisi kendaraan. Di balik kepadatan jalan, terdapat masyarakat yang menjalankan usaha dan mencari nafkah.
Pemerintah perlu memastikan bahwa upaya mengurai kemacetan tidak justru mematikan denyut ekonomi masyarakat di sekitarnya.
Turunnya Gubernur NTB dan Wali Kota Mataram secara langsung ke kawasan Rembiga menunjukkan bahwa persoalan tersebut membutuhkan sinergi lintas pemerintahan sekaligus keterlibatan masyarakat.
Rembiga bukan sekadar simpang tempat kendaraan bertemu. Di sana ada kepentingan pengguna jalan, keselamatan, pedagang, pelaku UMKM, dan aktivitas ekonomi masyarakat yang semuanya harus mendapat ruang.
Karena itu, solusi kemacetan Rembiga bukan sekadar membuat kendaraan bergerak lebih cepat, tetapi bagaimana menciptakan kawasan yang lebih lancar, lebih tertib, aman, sekaligus tetap menghidupkan ekonomi masyarakat.
Miq Iqbal dan Bang Aji Mohan turun bersama. Kini yang dibutuhkan adalah solusi bersama. (NM)
Jika ingin, saya juga bisa buatkan versi lebih “greget” untuk headline Media NTB, dengan gaya berita yang lebih kuat dan menggugah pembaca.(NM)





Post a Comment