Gubernur NTB: Isra Mi’raj Ajarkan Solidaritas Sosial dan Kepedulian Lingkungan



Mataram, Media NTB – Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW memiliki makna yang sangat penting dan relevan dengan kondisi kehidupan saat ini, khususnya dalam menjaga solidaritas sosial dan kelestarian lingkungan.


Hal tersebut disampaikan Gubernur saat menghadiri peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW di Masjid Islamic Center Mataram, Kamis (15/1/2026).


“Dalam peristiwa Isra Mi’raj, Rasulullah SAW menerima mandat salat lima waktu langsung dari Allah SWT, menerima Surah Al-Fatihah, serta dua ayat terakhir Surah Al-Baqarah. Ayat 286 sangat relevan dengan kondisi kita saat ini,” ungkapnya.


Menurut Gubernur, Surah Al-Baqarah ayat 286 mengingatkan bahwa Allah SWT tidak akan membebani hamba-Nya melebihi kemampuan yang dimilikinya. Pesan tersebut menjadi penguat di tengah berbagai musibah yang tengah melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Barat.


“Saudara-saudara kita di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat sedang dilanda bencana. Saya juga telah meninjau langsung kondisi masyarakat yang terdampak banjir di Sekotong, Lombok Barat. Semua ini adalah ujian, dan Allah menegaskan bahwa ujian itu tidak akan melebihi kemampuan kita,” ujarnya.


Gubernur menekankan bahwa musibah yang terjadi membutuhkan solidaritas dari seluruh elemen masyarakat, setidaknya dengan mendoakan agar para korban diberikan kesehatan, kekuatan, serta kemudahan dalam proses pemulihan sehingga dapat kembali beraktivitas seperti sediakala.


Selain itu, Miq Iqbal mengingatkan bahwa bencana alam yang terjadi juga tidak terlepas dari dampak perilaku manusia yang kurang bijak terhadap lingkungan.


“Oleh karena itu, mari kita saling menguatkan dan mendoakan saudara-saudara kita, sekaligus berkomitmen memperbaiki hubungan kita dengan lingkungan dan sesama,” pesannya.


Ia menegaskan bahwa solidaritas dan semangat gotong royong menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai tantangan, terutama saat bencana melanda. Kesadaran tersebut harus menjadi pengingat bahwa setiap perbuatan manusia terhadap lingkungan dan sesama akan dimintai pertanggungjawaban.


“Melestarikan lingkungan adalah kewajiban kita bersama agar kita tidak terus-menerus menghadapi bencana,” pungkasnya.(NM)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.