Resensi Novel "Cinta Tak Bersyarat"
Resensi Novel "Cinta Tak Bersyarat"
Oleh : Muhammad Akbar
(Dosen STIT Sunan Giri Bima)
Kota Bima, Media NTB - Cinta Tak Bersyarat merupakan novel perdana yang ditulis oleh seorang mahasiswi STIT Sunan Giri Bima Program Studi Pendidikan Agama Islam. Penulis menggunakan nama pena Devier Elqueen dengan nama asli Devi Ratnasari. Ia lahir dan besar di Tambora, sebuah daerah yang terletak di ujung barat Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Novel ini pertama kali diterbitkan ketika penulis masih menempuh semester tiga perkuliahan.
Novel ini mengisahkan perjalanan hidup seorang anak desa yang sejak kecil memiliki semangat tinggi dalam menempuh pendidikan. Tokoh utama diperkenalkan dengan nama Zelinanta Prasetyo, di mana Prasetyo merupakan nama kakeknya. Ia adalah putri dari pasangan Rahman Prasetyo dan Rahayu, keluarga sederhana yang menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter Zelin.
Sejak kecil, Zelin, sapaan akrab tokoh utama digambarkan sebagai sosok perempuan tangguh yang berjuang bersama keluarganya. Ia tinggal bersama ayah, ibu, dan nenek dari pihak ayah yang bernama Mbah Sarmi. Lingkungan keluarga yang sederhana membentuk Zelin menjadi pribadi yang kuat, sabar, dan pantang menyerah.
Secara emosional, novel ini ditulis dengan sangat kuat. Setiap bab mampu mengaduk perasaan pembaca melalui rangkaian peristiwa yang dialami tokoh utama. Hal tersebut tampak jelas sejak bab pertama, ketika Zelin masih duduk di bangku SMA dan harus berhadapan dengan teman-teman sekelas yang bersikap sinis, iri, bahkan kerap melakukan perundungan terhadapnya. Perlakuan tersebut muncul karena latar belakang ekonomi keluarga Zelin yang dianggap kurang mampu.
Pada bab satu hingga empat, penulis secara konsisten menggambarkan berbagai peristiwa yang memojokkan Zelin. Ujian kemiskinan seolah tidak seberapa jika dibandingkan dengan tekanan psikologis yang ia alami akibat perlakuan teman sekelasnya, khususnya seorang tokoh bernama Rendi. Konflik sosial ini menjadi salah satu inti emosional dalam novel.
Zelin dan Rendi diceritakan sama-sama mengajukan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sebuah harapan besar bagi anak desa untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Menjelang pengumuman beasiswa, Sari yang merupakan sahabat Zelin, meyakinkan dirinya dengan berkata, “Pasti kamu lolos, Zel. Nilai kamu sempurna, aku dengar sendiri dari Bu Lina, kamu paling tinggi.” Namun, Zelin hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Tapi terkadang nilai tinggi nggak cukup. Kadang yang dibutuhkan adalah nama, uang, atau… koneksi” (hlm. 17). Kutipan ini menegaskan kritik sosial penulis terhadap realitas pendidikan yang tidak selalu berpihak pada mereka yang berprestasi.
Ucapan Zelin terbukti benar. Uang dan koneksi kerap kali menjadi penentu utama. Pada papan pengumuman beasiswa, nama Rendi Ardana Putra dinyatakan lolos sebagai perwakilan kampus untuk melanjutkan studi di salah satu perguruan tinggi ternama (hlm. 18). Rendi digambarkan sebagai anak dari keluarga kaya dan terpandang, yang memiliki kedekatan dengan para pejabat dan petinggi. Dengan latar belakang tersebut, meloloskan anaknya bukanlah perkara yang sulit baginya.
Secara struktur, novel ini terdiri atas beberapa bab yang sarat dengan peristiwa dramatis. Sebagai sebuah novel, Cinta Tak Bersyarat memang dibumbui oleh berbagai konflik emosional yang menjadi kekuatan utama penulis dalam memainkan perasaan pembaca. Setiap bab menghadirkan ketegangan dan ujian hidup yang membuat pembaca larut dalam perjalanan tokoh utama.
Pada salah satu bab, pembaca dibuat seakan berkaca-kaca ketika Zelin mengabarkan kepada ibunya melalui pesan singkat untuk mengirimkan uang sebesar dua puluh juta rupiah sebagai biaya wisuda. Permintaan tersebut membuat ibu, ayah, dan neneknya terdiam sejenak. Bukan karena mereka enggan memenuhi permintaan Zelin, melainkan karena muncul kegelisahan dalam hati mereka: apakah Zelin masih seperti dulu atau telah berubah.
Kegelisahan itu semakin diperkuat oleh kabar yang beredar di kampung, bahwa Zelin kerap terlihat berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh seorang lelaki tua, seolah ia telah kehilangan arah sejak kuliah di kota.
Demi memenuhi kebutuhan Zelin, ibu, ayah, dan neneknya akhirnya memberanikan diri meminjam uang kepada tiga rentenir berbeda, masing-masing sebesar sepuluh juta rupiah. Mereka melakukan hal tersebut secara diam-diam dan saling menyembunyikan satu sama lain.
Ketika pada akhirnya mereka menyadari apa yang telah dilakukan masing-masing, tidak satu pun berani mengungkapkan isi hati secara terbuka. Dalam batin Rahayu terlintas, “Aku ini siapa dalam hidup suamiku, sampai ia tidak memberitahuku bahwa ia meminjam uang?” Sementara Rahman berpikir, “Keberadaanku di keluarga ini seakan tidak penting lagi, tidak ada musyawarah sebelum meminjam uang untuk Zelin.” Di sisi lain, Mbah Sarmi juga menyimpan luka batin, “Aku sudah tidak ada artinya lagi di mata anak-anakku.” Ketiganya memilih diam karena tidak ingin menyalakan api konflik yang dapat merusak keharmonisan keluarga.
Jika dilihat sekilas dari sampulnya, Cinta Tak Bersyarat seolah mengisahkan hubungan romantis sepasang kekasih. Namun pada kenyataannya, novel ini lebih menonjolkan makna cinta yang tulus tanpa syarat: cinta orang tua kepada anaknya, cinta seorang nenek kepada cucunya, cinta anak kepada orang tua dan neneknya, serta cinta keluarga terhadap pendidikan. Puncak cinta tak bersyarat tersebut tergambar pada bagian ketika keluarga Zelin rela menjual segala yang mereka miliki demi memenuhi kebutuhan kuliah Zelin di kota. Bahkan, mereka harus menerima kenyataan pahit diusir dari rumah karena tidak mampu melunasi utang kepada rentenir yang jatuh tempo.
Novel ini ditutup dengan akhir cerita yang bahagia. Setelah menyelesaikan pendidikannya selama empat tahun, Zelin kembali ke kampung halamannya di Tambora sebagai seorang dokter. Ia dinobatkan sebagai sosok pelajar yang tidak pernah putus asa dalam menuntut ilmu di tengah keterbatasan ekonomi keluarga. Namanya kerap diceritakan oleh para guru di sekolah-sekolah sebagai teladan bagi siswa-siswi lain tentang arti perjuangan, ketekunan, dan pentingnya pendidikan. (MA)





Post a Comment