Forum SEA-AFSID 2026 Kupas Perkembangan Pendidikan Tinggi Asia Timur
Taiwan, Media NTB – Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM) terus memperkuat perannya di tingkat global melalui penyelenggaraan Southeast Asia Academic Forum for Sustainable Development (SEA-AFSID) 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua pekan sejak akhir April hingga awal Mei 2026 ini menjadi ruang kolaborasi akademik lintas negara dalam mendorong pengembangan pendidikan tinggi berkelanjutan di kawasan Asia.
Pada sesi ke-4 yang kembali dilaksanakan secara daring, forum mengangkat tema “East Asia in the Context of Higher Education Development: Japan, Korea and China Advancement”. Kegiatan ini dilaksanakan melalui Zoom Meeting pada pukul 20.00 waktu Taipei, Taiwan atau 19.00 WIB. Sesi tersebut menghadirkan Prof. Dr. Peter John Wanner, Founding President BOLT sekaligus dosen di Tohoku University, Jepang, sebagai pembicara utama.
Adapun moderator dalam kegiatan ini yaitu Abdul Karim Panjaitan, M.Pd., dari IAI Daar Al Uluum Asahan, sementara host kegiatan dipandu oleh Lintang Markhamah Watia, M.Pd., dari STES Tunas Palapa Lampung.
Dalam pelaksanaannya, SEAAM menggandeng sejumlah perguruan tinggi sebagai mitra kegiatan, di antaranya STIT Sunan Giri Bima, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Universitas Muhammadiyah Barru, STIKES Bina Bangsa Majene, IAI Daar Al Uluum Asahan, dan STES Tunas Palapa Lampung. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring akademik dan internasionalisasi pendidikan tinggi di kawasan Asia Tenggara.
Dalam pemaparannya, Prof. Peter menjelaskan bahwa dukungan sistem dan ekosistem akademik global menjadi fondasi strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Keberadaan berbagai platform dan institusi internasional seperti Springer, Academia.edu, dan UNESCO dinilai mampu membuka akses pengetahuan yang lebih inklusif melalui konsep open access. Menurutnya, akses tersebut memungkinkan akademisi tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga berkontribusi dalam produksi pengetahuan pada level global.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan literasi publikasi ilmiah, pemanfaatan basis data akademik, serta keterlibatan aktif dalam ekosistem akademik digital guna meningkatkan daya saing institusi pendidikan. Selain itu, tindakan kolaboratif antar perguruan tinggi, baik pada level nasional maupun internasional, dinilai menjadi katalis utama dalam pengembangan pendidikan tinggi yang berkelanjutan.
Prof. Peter menyebutkan bahwa kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk, seperti webinar internasional, penelitian bersama, hingga pengembangan program akademik lintas negara. Ia juga menyoroti pentingnya prinsip kesetaraan dalam kepemimpinan, termasuk kesetaraan gender, serta penerapan tata kelola institusi yang baik (good governance) sebagai bagian penting dalam pembangunan pendidikan tinggi modern.
Menurutnya, praktik-praktik tersebut telah berkembang pesat di sejumlah negara Asia Timur seperti Jepang, Korea Selatan, China, dan Hong Kong yang menunjukkan kemajuan signifikan dalam jaringan kolaborasi riset dan internasionalisasi pendidikan. Ke depan, peluang pengembangan pendidikan tinggi akan semakin terbuka luas melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan berbagai platform digital yang memperkuat konektivitas antaruniversitas di tingkat global.
Sesi ke-4 SEA-AFSID 2026 ini juga didampingi langsung oleh Ismail Suardi Wekke, Ph.D., yang merupakan bagian dari komite pendirian SEAAM sekaligus Komite Saintifik SEA-AFSID dan Sekretaris Dewan Pendidikan Kabupaten Maros. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
“Atas dukungan, kerja sama, dan kontribusi dari berbagai pihak lintas institusi dan negara, kami menyampaikan terima kasih,” ujarnya.
Penyelenggaraan SEA-AFSID 2026 diharapkan menjadi langkah strategis dalam mendorong percepatan internasionalisasi dan digitalisasi pendidikan di kawasan Asia, sekaligus memperkuat hubungan kerja sama antarnegara melalui jalur akademik. Kegiatan ini menjangkau empat negara, yakni Indonesia, Singapura, Filipina, dan Thailand.
Forum internasional ini turut dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari peneliti, akademisi, dosen, mahasiswa, serta masyarakat umum dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa SEA-AFSID 2026 telah menjadi ruang akademik yang inklusif dalam memperkuat kolaborasi, pertukaran gagasan, dan pengembangan pendidikan tinggi di tingkat internasional. (MA)





Post a Comment