Ketika Data Menentukan Prestasi, Di Mana Letak Hati Nurani?
Ketika Data Menentukan Prestasi, Di Mana Letak Hati Nurani?
Oleh: Muhammad Akbar
Dosen STIT Sunan Giri Bima
Kota Bima, Media NTB - Hari ini, prestasi siswa semakin sering diterjemahkan dalam angka. Grafik capaian, skor asesmen, persentase ketuntasan, hingga analisis berbasis algoritma menjadi ukuran utama keberhasilan pendidikan. Data dipuja sebagai simbol objektivitas dan kemajuan. Namun di tengah dominasi angka-angka itu, muncul pertanyaan mendasar yang tidak bisa dihindari: ketika data menentukan prestasi, di mana letak hati nurani dalam pendidikan kita?
Transformasi digital dalam lima tahun terakhir telah mengubah wajah pendidikan Indonesia secara drastis. Platform pembelajaran daring, kecerdasan buatan (AI), serta sistem pembelajaran berbasis data menjadi bagian dari keseharian guru dan siswa. Digitalisasi menghadirkan efisiensi dan kemudahan akses yang sebelumnya sulit dibayangkan. Akan tetapi, percepatan ini juga membawa risiko reduksi makna, ketika proses pendidikan disederhanakan menjadi sekadar capaian kuantitatif.
Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa pada tahun ajaran 2023/2024 sebanyak 18.899.557 siswa menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP). Ini adalah langkah besar dalam memperluas akses pendidikan dan mengurangi kesenjangan ekonomi. Namun akses yang meluas tidak otomatis menjamin kedalaman makna pendidikan. Kita bisa berhasil menghadirkan jutaan anak ke sekolah, tetapi belum tentu berhasil menghadirkan nilai dalam diri mereka.
Masalahnya bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada orientasi yang menyertainya. Ketika sistem lebih sibuk mengolah data dibanding memahami manusia, pendidikan berisiko kehilangan sentuhan paling esensialnya. Sekolah bisa menjadi sangat modern secara perangkat, tetapi miskin secara relasi dan empati.
Studi Khairuddi (2023) dalam Jurnal UM Tapsel menegaskan bahwa pendidikan humanistik menekankan pengembangan karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis sebagai fondasi menghadapi kompleksitas dunia modern. Perspektif ini menempatkan peserta didik sebagai manusia utuh, bukan sekadar subjek evaluasi. Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa integrasi teknologi sering kali lebih fokus pada efisiensi, standarisasi penilaian, dan percepatan target kurikulum, sementara pembinaan nilai berjalan di belakang.
Idealnya, teknologi memperkuat kualitas interaksi dalam pembelajaran. Akan tetapi survei Rask.ai tahun 2024 menunjukkan bahwa 62 persen responden merasa konten pembelajaran berbasis AI kurang mampu membangun keterlibatan emosional dibanding materi yang dibuat manusia. Temuan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal akurasi informasi, tetapi juga tentang kehangatan relasi.
Guru bukan sekadar penyampai materi yang bisa digantikan sistem otomatis. Ia adalah figur yang menumbuhkan motivasi, membangun kepercayaan diri, dan menjadi teladan moral. Algoritma mungkin mampu merekomendasikan materi yang tepat, tetapi tidak dapat membaca kegelisahan siswa yang kehilangan arah. Data bisa mendeteksi penurunan nilai, tetapi tidak selalu mampu memahami sebab emosional di baliknya.
Di sisi lain, laporan Jurnal Pendidikan dan Kependidikan (2023) menekankan bahwa integrasi teknologi dan humanisme justru menjadi kunci peningkatan kualitas pendidikan tinggi. Teknologi dapat memperluas akses sumber belajar dan menciptakan pengalaman yang lebih dinamis. Namun, nilai-nilai seperti kepekaan sosial dan pengembangan karakter harus tetap menjadi orientasi utama, bukan sekadar pelengkap dalam dokumen kurikulum.
Karena itu, tantangan terbesar pendidikan Indonesia hari ini bukan memilih antara digital atau humanis, melainkan memastikan bahwa teknologi bekerja untuk manusia, bukan sebaliknya. Guru perlu dikuatkan literasi digitalnya tanpa kehilangan dimensi empati. Siswa perlu dibekali keterampilan teknologi sekaligus kesadaran etis dalam menggunakannya.
Jika pendidikan terus terjebak pada logika angka dan performa semata, maka kita sedang membangun generasi yang unggul secara statistik tetapi rapuh secara nurani. Prestasi sejati bukan hanya soal nilai tinggi, melainkan tentang karakter yang matang dan tanggung jawab sosial. Sebab pada akhirnya, ketika data menentukan prestasi, pendidikan tetap membutuhkan hati nurani untuk menentukan arah.(MA)





Post a Comment