Seminar Internasional Soroti Perkembangan AI dan Teknologi Informasi Kontemporer, Perkuat Kolaborasi Lintas Kota dan Negara
Kota Bima, Media NTB - Institut Agama Islam Rawa Aopa Konawe Selatan berkolaborasi dengan STEBI Al Muhsin Yogyakarta dan Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam HMI Cabang Makassar Timur menggelar seminar internasional bertajuk Understanding AI and The Contemporary IT Development pada Rabu, 4 Maret 2026, pukul 14.30 WIB, 15.30 WITA, dan 16.30 WIT. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid dan terpusat di tiga lokasi, yakni Yogyakarta, Makassar, dan Andoolo, sebagai upaya memperluas jangkauan partisipasi akademisi dan mahasiswa.
Seminar internasional ini juga mendapat dukungan dari Universitas Jakarta, Dewan Pimpinan Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP KNPI), HMI Cabang Konawe Selatan, serta Forum Anggota Mahasiswa Persatuan Insinyur Indonesia (FAM PII) Universitas Hasanuddin. Kolaborasi lintas institusi tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam memperkuat literasi teknologi dan kapasitas riset generasi muda di era kecerdasan buatan.
Pemateri utama pada sesi keempat ini adalah Dr. A.V. Senthil Kumar dari Nehru Institute, Coimbatore, India. Dalam paparannya, ia mengulas perkembangan mutakhir kecerdasan buatan dan teknologi informasi kontemporer, termasuk dampaknya terhadap dunia akademik, riset, dan publikasi ilmiah global.
Salah satu materi penting yang dibahas adalah metodologi CiteScore sebagai indikator kualitas jurnal internasional. CiteScore dihitung berdasarkan jumlah sitasi terhadap dokumen seperti artikel, ulasan, makalah konferensi, bab buku, dan makalah data selama empat tahun, kemudian dibagi dengan jumlah dokumen yang diterbitkan dalam periode yang sama dan terindeks di Scopus. Pendekatan empat tahun ini dinilai lebih stabil dan representatif dalam menangkap puncak sitasi di berbagai disiplin ilmu.
Seminar ini juga membedah perbedaan antara CiteScore dan Journal Impact Factor. CiteScore berbasis data Scopus yang dikelola oleh Elsevier dengan rentang empat tahun, sedangkan Impact Factor menggunakan data Web of Science milik Clarivate dengan rentang dua tahun. Perbedaan basis data dan metodologi tersebut penting dipahami akademisi agar dapat menentukan strategi publikasi yang tepat di tengah persaingan global.
Selain itu, peserta diperkenalkan pada metrik Google Scholar, termasuk indeks h yang diperkenalkan oleh fisikawan Jorge Hirsch pada 2005. Indeks ini mengukur produktivitas dan dampak sitasi seorang peneliti berdasarkan jumlah artikel yang dikutip minimal sejumlah tertentu. Pemahaman terhadap metrik ini dinilai krusial bagi dosen dan peneliti dalam membangun rekam jejak akademik yang kredibel.
Materi lain yang turut dibahas adalah daftar jurnal ABDC yang dikeluarkan oleh Australian Business Deans Council. Lembaga ini melakukan pemeringkatan jurnal melalui mekanisme tinjauan sejawat dan hanya mengindeks jurnal berkualitas tinggi di bidang akuntansi, ekonomi, manajemen, sistem informasi, dan disiplin terkait. Penjelasan ini memberikan perspektif komprehensif mengenai berbagai sistem pengindeksan jurnal yang diakui secara internasional.
Seminar ini juga memberikan panduan teknis terkait pengelolaan profil penulis di Scopus, termasuk solusi apabila publikasi seorang akademisi terpecah dalam beberapa entri akibat perbedaan afiliasi atau variasi penulisan nama. Peserta diarahkan untuk memanfaatkan fitur penggabungan profil melalui Author Feedback Wizard di Scopus agar indeks h dan rekam jejak sitasi dapat diperbarui secara akurat. Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap lahir generasi akademisi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu bersaing dalam ekosistem publikasi ilmiah global. (MA)






Post a Comment