SEAAM Gelar SEA-AFSID 2026, Perkuat Kolaborasi Akademik Global
Jakarta, Media NTB – Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM) terus memperkuat perannya di tingkat global melalui penyelenggaraan Southeast Asia Academic Forum for Sustainable Development (SEA-AFSID) 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua pekan, sejak akhir April hingga awal Mei 2026 ini menjadi wadah kolaborasi akademik lintas negara di kawasan Asia Tenggara.
Pada sesi pertama yang dilaksanakan secara daring, kegiatan mengangkat tema “Language Teaching, Endangered and Human Security”. Sesi ini menghadirkan Prof. Dr. Peter John Wanner, Founding President BOLT sekaligus dosen di Tohoku University, Jepang, sebagai pembicara utama, dengan I’in Irliana, M.Pd., dosen STIT Sunan Giri Bima, sebagai moderator.
Dalam pelaksanaannya, SEAAM menggandeng sejumlah perguruan tinggi sebagai mitra, di antaranya STIT Sunan Giri Bima, IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Universitas Muhammadiyah Barru, STIKES Bina Bangsa Majene, dan IAI Daar Al Uluum Asahan. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat jejaring akademik dan pertukaran pengetahuan lintas institusi.
Dalam pemaparannya, Prof. Peter menegaskan bahwa pengajaran bahasa tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan keamanan manusia (human security). Ia menyampaikan bahwa pembelajaran bahasa diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi setiap individu dalam kehidupan sosial.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa terdapat sejumlah aspek yang memengaruhi keberlangsungan hidup manusia. Pertama, jaminan ekonomi, yakni tersedianya kesempatan kerja yang layak dan penghasilan yang adil sehingga mampu memberikan rasa aman secara sosial. Kedua, ketersediaan makanan yang cukup, sehat, dan bergizi bagi setiap individu.
Ketiga, jaminan kesehatan, yaitu kemampuan untuk bertahan dari penyakit serta kemudahan akses terhadap layanan medis. Keempat, keamanan lingkungan, yang mencakup perlindungan dari kerusakan alam, pengendalian polusi, serta ketangguhan dalam menghadapi bencana.
Selain itu, aspek keamanan pribadi juga menjadi perhatian penting, yaitu perlindungan dari kekerasan fisik, pengendalian tingkat kriminalitas, serta pencegahan kekerasan dalam rumah tangga dan pelanggaran hak asasi manusia. Kelima, keamanan komunitas, yakni perlindungan terhadap identitas budaya, bahasa, dan kepercayaan, termasuk perlindungan terhadap kelompok minoritas serta terciptanya hubungan sosial yang aman.
Terakhir, keamanan politik, yaitu jaminan hak asasi manusia, kebebasan dari tekanan politik, serta akses yang adil terhadap pemerintahan. Prof. Peter menegaskan bahwa manusia dapat dikatakan memiliki keamanan apabila bebas dari rasa takut, memiliki kebebasan dalam bertindak, serta dihargai martabatnya sebagai manusia tanpa diskriminasi.
Kegiatan ini turut didampingi oleh Ismail Suardi Wekke, Ph.D., yang merupakan bagian dari komite pendirian SEAAM sekaligus Komite Saintifik SEA-AFSID. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. “Atas dukungan, kerja sama, dan kontribusi dari berbagai pihak lintas institusi dan negara, kami menyampaikan terima kasih,” ujarnya.
Penyelenggaraan SEA-AFSID 2026 diharapkan menjadi langkah strategis dalam mendorong percepatan internasionalisasi dan digitalisasi pendidikan di kawasan Asia, sekaligus memperkuat hubungan kerja sama antarnegara melalui jalur akademik. Kegiatan ini melibatkan peserta dari empat negara, yakni Indonesia, Singapura, Filipina, dan Thailand.(MA)






Post a Comment